Orang-orang yang Tidur Beratap Langit Akibat Pandemi

0
59
Foto: Liputan6.com

JAKARTA-Hingga saat ini Rabu (13/05/2020) Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, khususnya mereka yang penghasilannya tidak tetap. Sejumlah warga bahkan terpaksa tinggal dan tidur di emperan kawasan Pasar Tanah Abang karena tidak lagi memiliki penghasilan untuk membayar sewa kontrakan atau indekost.

Salah satunya adalah Reza, bekas karyawan toko yang sudah hampir satu bulan tidur di trotoar Pasar Tanah Abang.

 “Saya pedagang ikut orang juga di Kota Tua dagang jilbab gitu, karena keadaan corona ini juga pengunjung kurang dan juga peraturan dari pemerintah juga toko enggak boleh buka, ya sudah tutup,” ujarnya dalam wawancara yang disiarkan Kompas TV, Kamis (23/4/2020).

Dia terpaksa menggelandang karena tidak lagi mampu membayar indekost semenjak tempat kerjanya tutup akibat mewabahnya Covid-19.

“Namanya kostan enggak tahu menahu, namanya perut mau morona mau enggak perut harus makan, tempat tinggal harus dibayar,” ungkapnya.

Sementara itu, Fahmi yang juga tidur di emperan mengaku terpaksa tidur di pinggir jalan karena kehabisan uang untuk menyewa Indekost.

Fahmi sempat bekerja di pusat perbelanjaan kawasan Blok M.

Sampai akhirnya diberhentikan akibat mall dan kios tidak boleh beroperasi.

“Kan diperpanjang diperpanjang lagi sama pemerintah, toko di Blok M pada tutup. Nah pas tutup sudah bingung kan, uang sudah pada habis, mau makan di mana mau tinggal di mana, ya sudah,” ungkapnya.

Kini, Reza dan Fahmi hanya bisa tidur di trotoar dan mencari makan dengan mendatangi tempat-tempat pembagian makanan gratis yang dilakukan di pinggir jalan.

“Tidur di Tanah Abang bertiga bareng kan. Terus di situ juga cari makan di jalan. Ada yang bagi sembako kita kejar, yang bagi makan juga kita kejar,” kata Fahmi.

Perpanjangan Penutupan

Sebelumnya Para pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat mengaku kecewa, soal perpanjangan masa penutupan operasional Pasar Tanah Abang.

Diakui sejumlah pedagang Pasar Tanah Abang tersebut, penetapan perpanjangan masa penutupan operasional Pasar Tanah Abang diperpanjang dinilai mendadak.

Diketahui, penetapan perpanjangan masa penutupan Pasar Tanah Abang, dilakukan oleh Perumda Pasar Jaya.

Mereka memperpanjang penutupan operasional Pasar Tanah Abang Blok A, B dan F, namun beberapa pedagang tetap datang ke Pasar Tanah Abang.

Hal itu dikarenakan beberapa hari sebelum pengumuman perpanjangan, para pedagang sudah mendapatkan pesanan barang yang akan di kirimkan ke sejumlah wilayah luar Jakarta.

Hal itu dikatakan oleh Rina (33) salah satu pedagang baju muslim di Tanah Abang.

Ia mengaku kecewa perpanjangan penutupan terbilang mendadak, karena sudah banyak pesanan yang masuk.

“Kita itu sore baru dapat kabar itu kalo bakal di perpanjang penutupan. Sedangkan sebelumnya kami sudah terima pemesanan”

 “Karena kan kita ngak tahu kalo bakal perpanjang lagi,” kata Rina ditemui di Tanah Abang

Sementara itu, salah satu pedagang batik, Arista (47) mengatakan sudah membawa 50 karung batik dari tempat konveksinya untuk jual di Pasar Tanah Abang blok B.

Sayangnya petugas meminta barang-barang tersebut dibawa pulang kembali.

“Ini saya udah bawa 50 karung buat masuk susah ternyata diperpanjang. Makannya ini kita juga binggung. Masa harus dibawa balik lagi,” kata Arista.

Menurut Arista, beberapa pesanan pelangganya dari Papua pun terpaksa ditunda.

Hal itu dikarenakan sejumlah ekpedisi di Tanah Abang tak jalan, karena perpanjangan penutupan Pasar Tanah Abang ini.

“Ini saya juga ada pesanan ke Papua. Tinggal kirim, mana udah bayar. Ya mau gak mau kita tunda dulu, kalo enggak cari alternatif pengiriman,” ucapnya.

Hingga saat ini beberapa pedagang Pasar Tanah Abang masih memadati area sekitar Pasar.

Mereka di lokasi membawa kembali beberapa barang-barang dengan mengunakan beberapa kendaraan roda empat.

Andalkan Jualan Online

Sejumlah pedagang di Tanah Abang dilema akan kondisi jumlah Covid-19 terus mengalami peningkatan, tak sedikit para pedagang khawatir jika penutupan ini akan diperpanjang menginggat situasi saat ini.

Saat ini Pasar Tanah Abang Blok A, B dan F dilakukan penutupan sementara hingga 5 April 2020, mereka yang tak lagi bekerja hanya mengandalkan penjualan online.

Salah satunya Andrian (30) pedagang baju kebaya di Pasar Tanah Abang Blok F. Sejak Pasar Tanah Abang ditutup, ia pun hanya mengandalkan jual beli online.

“Ya sekarang untuk penutupi pemasukan di toko yang sudah tidak ada lagi. Kita jualan di online,” kata Andrian.

Menurut Andrian kebanyakan beberapa pedagang di sekitar tempat ia bekerja memilih berjualan online semenjak Pasar Tanah Abang tutup, penjualan online sendiri memang sudah dilakukan para pedagang sebelumnya.

“Sebelum tutup pun juga pedagang banyak yang jualan online, selain jualan di toko mereka. Jadi ya saat ini pemasukan hanya di online saja,” katanya.

Saat ini pembelian online memang masih cenderung sedikit, namun menginggat saat ini pemerintah menerapkan aturan larangan warga ke tempat keramian, tentu ini menjadi peluang pemasukan bagi mereka.

“Ya kalo sekarang belum rami, tapi lumayan buat pemasukan di saat kondisi seperti ini. Karena orang butuh tapi ngak bisa keluar rumah,” ujarnya.

Tak hanya itu hal serupa juga dikatakan oleh Agung (35) salah satu pedagang baju muslim. Ia mengaku khawatir jika kondisi ini akan menjadi lebih sulit.

Ia pun tak menampik jika beberapa karyawanya harus pulang kampung.

“Beberapa diantaranya mau ngak mau pulang kampung, ya mau gimana lagi toko tutup pasti penghasilan pun turun. Ya satu satunya hanya mengandalkan online,” katanya.

Menurut dia sejak Pasar Tanah Abang tutup beberapa barang jualanya di bawa ke rumah, beberapa barang yang siap untuk di jual di online akan di pasarkan.

“Barang tetap ada di rumah jadi dari pihak pengiriman banyak yang mau ambil paket ke rumah. Ya lumayan sehari masih bisa dapat 10 paket,” ucapnya.

PKL Pasar Tanah Abang: Kami Butuh Makan, Pak!

Meski Pasar Tanah Abang Blok A, B, dan F ditutup mulai hari ini, beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) tetap masih berjualan di sekitar area trotoar.

Bahkan, beberapa anggota Satpol PP pun berpatroli mengunakan kendaraan sekaligus pengeras suara, agar para PKL tidak membuat kerumunan ataupun berdagang.

“Kami dari Satpol PP Wali Kota Jakarta Pusat menghimbau kepada bapak ibu untuk tidak berkerumum terlebih dahulu.”

“Ini demi kesehatan kita semua,” kata seorang petugas Satpol PP melalui pengeras suara.

Para PKL yang diimbau petugas ini pun langsung membereskan lapak mereka.

Namun, di tengah itu ada beberapa PKL yang berteriak.

“Kami butuh makan, pak!” kata seorang PKL.

Arji (38), salah satu PKL, mengaku tak punya pilihan lain untuk tidak berjualan, meski ia sendiri juga khawatir akan penyebaran Covid-19 ini.

Namun, ia juga harus memikirikan kebutuhan sehari-harinya yang mengandalkan jualan aksesori.

“Ya kita mau gimana, mas? Kalau dibilang khawatir, kita juga khawatir.”

“Tapi kita juga lebih khawatir yang di rumah enggak makan.”

“Ini sumber rezeki kita satu-satunya, kita juga bingung harus gimana,” tuturnya.

Kasatpol PP Kecamatan Tanah Abang Budi Salamun mengatakan, pihaknya hanya melakukan imbauan kepada para PKL untuk tak beraktivitas terlebih dahulu.

Apalagi, keberadaan mereka akan membuat kerumunan yang tentu berpotensi menyebarkan virus.

“Kita imbau agar tidak berjualan dulu, apalagi mereka tak pakai masker dan juga bukan pedagang resmi,” paparnya.

Setidaknya masih ada 30 PKL yang tetap membandel dengan menggelar dagangan mereka di bahu jalan.

Petugas akan terus lakukan monitoring di sejumlah pasar Tanah Abang agar tidak ada aktivitas kerumunan.

“Ini pedagang yang resmi saja pasar Blok A, B, G tidak buka.”

“Makanya itu kita gebah seluruh PKL yang nekat jualan. Kita kerahkan 20 petugas satpol,” ucap Budi.

Artikel ini di kutip dari: https://wartakota.tribunnews.com/2020/04/24/tidur-di-emperan-toko-tanah-abang-karena-kehilangan-pekerjaan-dan-tak-mampu-bayar-kontrakan?page=all

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here