Kisah Ahli Epidemiologi Positif Corona: Rasa Sakit Naik-Turun Tak Pernah Hilang

0
41
Foto: Istimewa

Paul Garner merasa ada yang tak beres dengan kesehatannya saat mulai terserang batuk pada pertengahan Maret 2020 lalu. Sebagai seorang pakar penyakit menular, Garner kala itu kerap terlibat diskusi perihal virus corona yang tengah menjadi pandemi dunia.

Seorang rekannya, David Nabarro, yang merupakan perwakilan Inggris untuk organisasi kesehatan dunia (WHO), menyarankan Garner agar lekas melakukan karantina secara mandiri. Garner yang merasa dirinya tengah sekarat menuruti saran Nabarro.

Garner mengalami gejala infeksi yang cukup hebat. Apa yang dirasakannya sangat aneh, mulai dari kehilangan indera penciuman, kelelahan tanpa sebab, hingga jantung berdebar. Ia menyebut rasa sakitnya ini seperti roller coaster, naik-turun, namun tak kunjung hilang.

Pria itu sempat berpikir waktunya tak lama lagi, ia mungkin akan segera meninggal dunia. Garner pun mencoba mengetik miokarditis fulminan di mesin pencari Google karena curiga dengan gejala yang dialaminya, namun ia tak punya cukup tenaga untuk melakukan itu.

Ia mengira, virus corona yang menginfeksi tubuhnya akan segera menghilang. Namun di luar dugaan, kondisi Garner malah kian memburuk. Kondisi yang dialami Garner telah dilaporkan dalam British Medical Journal.

Dari kasus Garner, virus corona diketahui dapat menyebabkan serangkaian gejala di luar gejala umum yang biasanya dijumpai pada pasien COVID-19. Gejala itu bahkan berlangsung lebih lama karena Garner mengalaminya selama lebih dari tujuh minggu.

Profesor di Liverpool School of Tropical Medicine itu lantas mengisahkan pengalamannya ketika menderita sejumlah gejala yang ditimbulkan virus corona saat masih menjangkiti tubuhnya.

Saya telah melalui roller coaster kesehatan yang buruk, emosi ekstrem, dan melelahkan.

Penyakitnya surut dan mengalir, tetapi tidak pernah hilang. – Paul Garner, ahli epidemiologi Liverpool School of Tropical Medicine

Garner menderita sakit perut, telinganya berdengung, sesak napas, pusing dan radang sendi di tangan. Apa yang dialami Garner cukup membingungkan dirinya karena setiap kali ia berpikir kondisinya akan membaik, yang terjadi justru sebaliknya.

“Hal ini sangat membuat frustasi. Banyak orang yang mulai meragukan diri mereka sendiri,” kisahnya, seperti dikutip The Guardian. “Kerabat mereka mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan kondisi psikologis pasien.”

Hal itu diketahui Garner setelah menerima banyak keluhan dari orang-orang yang membaca penelitiannya. Para pembaca sedikit lega karena awalnya menganggap diri mereka sudah tidak waras akibat gejala aneh yang mereka alami.

Sebagai pakar kesehatan masyarakat, Garner tak menampik bahwa virus corona telah menyebabkan banyak perubahan dari imunologis tubuh sehingga menyebabkan sejumlah gejala yang tak biasa dan belum pernah dijumpai sebelumnya.

Berdasarkan riset terbaru, satu dari 20 pasien COVID-19 merasakan gejala yang datang dan pergi dalam jangka waktu panjang. Belum bisa dipastikan apakah itu bisa berlangsung dua bulan, tiga bulan, atau bahkan bisa lebih lama dari itu.

Garner menyebut, salah satu gejala yang mengerikan adalah terjadinya infeksi pada kelenjar getah bening yang juga dialaminya sendiri.

Profesor Tim Spector dari King’s College London memperkirakan, gejala coronavirus yang datang dan pergi telah menimpa sebagian kecil pasien COVID-19. Spector sendiri merupakan pemimpin riset di King’s College London yang telah mengembangkan aplikasi pelacak COVID-19. Aplikasi tersebut telah dimanfaatkan oleh 4 juta orang dari Inggris dan Amerika.

Menurut Spector, ada sekitar 200.000 pasien yang melaporkan gejala virus corona yang mereka rasakan telah berlangsung selama enam minggu. Namun data klinis tersebut hanya diperoleh dari pasien yang dirawat di rumah sakit. Sementara pemerintah sejauh ini belum mengumpulkan informasi dari masyarakat yang menderita gejala ringan, padahal jumlah mereka jauh lebih banyak dibandingkan pasien dalam kondisi kritis.

Spector mengatakan orang-orang dengan gejala ringan kemungkinan besar akan terus beraktivitas tanpa menyadari mereka sedang membawa virus. “Ada sisi lain dari virus yang belum mendapat perhatian karena adanya gagasan bahwa ‘jika kamu tidak mati, kamu baik-baik saja’,” ujarnya.

Sebagai negara yang menemukan ilmu epidemiologi, Inggris, kata Spector, belum banyak menghasilkan studi apa pun selain aplikasi. Ini menjadi hal yang patut disayangkan menurutnya.

Banyak pasien COVID-19 tidak mengalami demam ataupun batuk. Sebaliknya, mereka mengalami sakit otot, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Aplikasi ini telah melacak 15 jenis gejala yang berbeda, bersama dengan pola yang berbeda yaitu “waxing and waning”.

“Saya sudah mempelajari 100 penyakit. COVID adalah yang paling aneh yang pernah saya lihat dalam karir medis saya,” kata Spector.

Penjelasan ilmiah untuk apa yang terjadi masih pada tahap awal. Lynne Turner-Stokes, profesor kedokteran rehabilitasi di King’s College, mengatakan COVID-19 adalah “penyakit multi-sistem” yang berpotensi mempengaruhi beberapa organ manusia. Ini menyebabkan masalah mikrovaskuler dan gumpalan. Paru-paru, otak, kulit, ginjal, dan sistem saraf mungkin terpengaruh. Gejala neurologis ringan yang bisa muncul misalnya sakit kepala atau yang parah seperti kebingungan.

Para peneliti saat ini tengah berkolaborasi lintas batas. Mereka sedang memeriksa data terbaru dari negara-negara Eropa selain Inggris dalam hal pandemi, seperti Italia dan Spanyol, serta China. Mereka sedang mencari tahu dukungan apa yang mungkin diperlukan untuk pasien yang parah dan kronis karena COVID-19. Hal ini memberikan tantangan yang serupa dengan HIV / AIDS.

Artikel ini Melansir dari: https://kumparan.com/kumparansains/cerita-ahli-epidemiologi-positif-corona-rasa-sakit-naik-turun-tak-pernah-hilang-1tQksJ5PwZU/full

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here